Pemikiran Politik Sosialisme Demokrat Sutan Syahrir

oleh: Azhrianka D.S, Desi Susanti, Kharina M.Zuhri (Mahasiswi Ilmu Sejarah UI 2012), Ibnu Umar Ghifari (Mahasiswa Ilmu Sejarah UI 2011)

Desember 27, 2014

Mitos adalah sesuatu ( cerita ) yang dipercaya  meskipun tanpa  didukung suatu fakta. Mitos dapat juga suatu cerita yg menjelaskan mengapa sesuatu itu exist. Masyarakat akan marah jika yang dipercaya itu disebut mitos.  Because of this popular and subjective word usage, many people take offense when the narratives they believe to be true are called myths.

Penulis dan kritikus keras, Macheal Backman asal Australia ketika menulis penyebab kerusuhan Mei 1998 paska Krismon 1997. Dalam bukunya berjudul Overseas Chinese Business Networks itu menyebutkan kerusuhan Mei tsb dipicu oleh kesenjangan ekonomi antara kalangan Non Pri ( China ) dan kalangan Pribumi serta terdapat networks dengan para China perantauan di Asia Tenggara dengan Tanah leluhur mereka.

Tulisan tersebut mendapat peringatan keras oleh Wang Gwanwu seorang pakar internasional yg disegani mengenai overseas chinese. Juga disanggah oleh Yoseph Choi dan KC Roy, University of Queensland bahwa keberadaan Chinese Totok kaya raya hanya 40 keluarga a.l. Liem Sioe Liong, Muchtar Ryadi, Pangestu. Sebagian  China Peranakan hidup sebagai karyawan atau pedagang kecil menengah, sebagian besar lagi hidup kurang beruntung.

Saya perlu memulai dengan tulisan singkat diatas sebelum  menghadirkan karya2 tulis para founding fathers kita seperti Bung karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Amir Syarifoeddin, Tan Malaka, Jendral Besar Sudirman, Jendral Besar  AH Nasution yg oleh Daniel Dhakidae disebut Man of Paradox.

Merasa mendesak oleh karena bangsa kita seperti kehilangan identitas, intoleransi merebak terutama dikalangan terpelajar terlihat dari isi medsos dan seminar2, saresehan, talkshow. Berbeda apa yang kalangan terpelajar saat ini sampaikan dengan para terpelajar di era Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Wachid Hasyim, M Natsir, Kasimo, Juanda.

Dalam sejumlah acara yang mengemuka saat ini adalah mitos sebagai rujukan, pemutar balikkan sejarah demi menguatkan pendapat masing2. Namun yg membesarkan dalam pengamatan dan pengalaman se-hari2 tidaklah demikian. Masyarakat tetap rukun dan guyub. Yang ribut cuma orang2 Jakarta di TV dan Medsos kata seorang desa di Aceh ketika ditanya tentang keamanan oleh anak sulung saya beberapa bulan yang lalu. – GG

karikatur Syahrir

Latar Belakang

Sutan Sjahrir dilahirkan di Padang Panjang, Minangkabau pada 5 Maret 1909. Nama yang diberikan oleh orang tuanya padanya adalah Sjahrir, bergelar Soetan sehingga kemudian dikenal sebagai Sutan Sjahrir. Ayah Sutan Sjahrir yang bernama Mohammad Rasyad Gelar Maha Soetan adalah seorang kepala jaksa di Kantor Pengadilan Negeri (Landraad) Medan. Sjahrir menyelesaikan pendidikan ELS dan MULO-nya di Medan. Kemudian pada tahun 1926 Sjahrir pindah ke Bandung untuk mengenyam pendidikan di AMS Bandung dan memilih jurusan klasik.

Selama berada di Bandung, Sjahrir aktif bergabung ke dalam beberapa organisasi atau perkumpulan. Pertama-tama Sjahrir bergabung dengan Patriae Scientiaeque (PSQ) dan kemudian bergabung dengan perkumpulan siswa di Bandung yang bernama Batovis. Pada tahun 1937 Sjahrir aktif dalam organisasi kepemudaan Jong Indonesia yang kemudian berganti namanya menjadi Pemuda Indonesia sebagai ketua. Fokus dari organisasi ini adalah memberantas buta huruf. Kemudian Sjahrir juga mendirikan perguruan tinggi Cahaya di Bandung dengan tujuan yang sama yakni memberantas buta huruf bagi rakyat jelata.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, Sutan Sjahrir pergi ke negeri Belanda pada tahun 1929 mengikuti keluarga kaka iparnya, Dr. Djuhana Wiriadikarta yang mendapat tugas baru disana. Sutan Sjahrir melanjutkan pendidikan tingginya di sekolah hukum Leiden. Pada masa perkuliahan tersebut, Sutan Sjahrir masuk dan menjadi anggota organisasi Perhimpunan Indonesia (PI). Perhimpunan Indonesia (PI) adalah organisasi pelajar-pelajar Indonesia yang bersekolah di negeri Belanda. Sjahrir adalah mahasiswa yang mula-mula mengadakan hubungan dengan pengurus Amsterdamsche Sociaal Democratische Club yang merupakan perkumpulan mahasiswa sosialis di Belanda. Sutan Sjahrir juga mengikuti gerakan serikat buruh dan pekerja pada sekretariat Federasi Buruh Transport International.

Foto PPIPimpinan Perhimpunan Indonesia: Gunawan Mangunkusumo, M Hatta, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, Sartono

Sutan Sjahrir kembali ke Indonesia pada Bulan Desember 1931 sebelum sempat menyelesaikan kuliahnya di Belanda. Kembalinya Sjahrir ke Hindia Belanda menandai tahap baru dalam perkembangan politiknya. Sejak masih ada di Belanda, ia dan Hatta terus mengikuti kekacauan yang terjadi pada PNI setelah ditangkapnya Sukarno dan pandangan kelompok yang terus menentang Sartono untuk membubarkan partai dan mendirikan Partindo. Atas dasar itulah, Sjahrir diminta kembali ke Indonesia untuk memimpin kelompok yang menolak untuk masuk ke dalam Partindo. Kelompok-kelompok ini bermunculan di tempat-tempat yang sebelumnya terdapat cabang PNI lama. Kelompok tersebut bermunculan di daerah Batavia, Bandung, Yogjakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, dan Palembang

Syahrir 2Kelompok-kelompok di atas beberapa di antaranya telah memakai nama Club Pendidikan Nasional Indonesia dan menerbitkan surat kabar baru bernama Daulat Ra’jat. Kemudian pada tanggal 25-27 Desember 1931 diadakan konferensi di Yogyakarta untuk menyatukan kelompok-kelompok tersebut dengan pembentukan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) yang kemudian dinamakan PNI Baru yang mengedepankan pendidikan kader politik dengan Sukemi sebagai ketuanya. Lalu pada Juni 1932, Sjahrir menggantikan Sukemi sebagai ketua dan kemudian menyerahkannya kepada Hatta sekembalinya Hatta dari Belanda ke Indonesia.

Pada tanggal 25 Februari 1934 para pemimpin PNI Pendidikan, tidak terkecuali Sjahrir, ditangkap oleh pemerintah kolonial dan diputuskan bersalah pada tanggal 16 November 1934 dan akan dibuang ke Boven Digoel (Tanah Merah). Pada bulan Desember 1935, Sjahrir dan Hatta dipindahkan tempat pengasingannya ke Banda Neira (Pulau Banda). Di tempat ini, Sjahrir menulis buku berjudul Indonesische Overpeinsingen (Renungan Indonesia) yang berisi renungan dan pandangan Sjahrir terhadap perkembangan dunia.

Menjelang pemberontakan PKI Madiun 1948, Partai Sosialis yang meruapakan gabungan Partai Sosialis yang merupakan gabungan Partai Rakyat Sosialis (PRS) pimpinan Sutan Sjahrir dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Amir Sjarifudin mengalami perpecahan. Sayap kiri partai pimpinan Amir Sjarifudin menggabungkan diri ke dalam Partai Komunis Indonesia (PKI), sedangkan Sjahrir dan rekan-rekannya mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang menolak doktrin perjuangan kelas sebagaimana yang dilakukan oleh Stalin.

Pada tahun 1960, Partai Sosialis Indonesia dibubarkan oleh pemerintah dan pimpinannya yakni Sjahrir dan Subadio Sastrosatomo ditahan pada tahun 1962 sebagai tahanan politik. Dalam masa tahanan, Sjahrir mengalami sakit keras dan diizinkan untuk berobat ke Zurich, Swiss. Sutan Sjahrir akhirnya meninggal dunia di Swiss pada tanggal 9 April 1966 sebagai tahanan negara. Namun setelah wafat, melalui keputusan Presiden Soekarno, Sutan Sjahrir diangkat sebagai Pahlawan Nasional dan jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,  pada tanggal 19 April 1966.

Sosialisme Demokrat

Sosialisme (sosialism) secara etimologi berasal dari bahasa Perancis sosial yang berarti kemasyarakatan. Istilah sosialisme pertama kali muncul di Perancis sekitar 1830. Umumnya sebutan itu dikenakan bagi aliran yang masing-masing hendak mewujutkan masyarakat yang berdasarkan hak milik bersama terhadap alat-alat produksi, dengan maksud agar produksi tidak lagi diselenggarakan oleh orang-orang atau lembaga perorangan atau swasta yang hanya memperoleh laba tetapi semata-mata untuk melayani kebutuhan masyarakat. Dalam arti tersebut ada empat macam aliran yang dinamakan sosialisme: (1) sosial demokrat, (2) komunisme,(3) anarkhisme, dan (4) sinkalisme (Ali Mudhofir, 1988). Sosialisme adalah ajaran kemasyarakatan (pandangan hidup) tertentu yang berhasrat menguasai sarana-sarana produksi serta pembagian hasil produksi secara merata (W.Surya Indra, 1979: 309). Dalam membahas sosialisme tidak dapat terlepas dengan istilah Marxisme-Leninisme karena sebagai gerakan yang mempunyai arti politik, baru berkembang setelah lahirnya karya Karl Marx, Manifesto Politik Komunis (1848). Dalam edisi bahasa Inggris 1888 Marx memakai istilah “sosialisme” dan ”komunisme” secara bergantian dalam pengertian yang sama. Hal ini dilakuakn sebab Marx ingin membedakan teorinya yang disebut “sosialisme ilmiah” dari “ sosialisme utopia” untuk menghindari kekaburan istilah dua sosialisme dan juga karena latarbelakang sejarahnya. Marx memakai istilah “komunisme” sebagai ganti “sosialisme” agar nampak lebih bersifat revolusioner (Sutarjo Adisusilo, 1991: 127).

 Sosial demokrasi merupakan idiologi politik yang menggabungkan sosialisme dengan unsur – unsur kapitalisme yang di anggap sesuai. Sosial Demokrasi juga dapat di katakan sebagai paham politik yang di sebut sebagai sosialis moderat yang berkembang pada abab ke 19. Ide sosial demokrasi ( sosdem ) berkembang dari gerakan – gerakan buruh di eropa, Tokoh yang dianggap berpengaruh mengembangkan ide sosial demokrasi ( sosdem ) adalah Eduard Bernstein. Lewat bukunya “Evolutionary Socialism (terbit tahun 1899)”, Bernstein menyerang ide-ide Marx yang memiliki berbagai kontradiksi internal dan bertentangan dengan demokrasi. Kaum sosialis, menurut Bernstein, harus mentransformasi masyarakat menuju keadilan sosial dengan cara-cara demokratis, bukan revolusioner seperti digagas Marx. Berbeda dengan Marx yang meyakini bahwa institusi negara akan menghilang digantikan kekuasaan proletariat, Bernstein berargumen bahwa institusi negara harus dipandang sebagai mitra. Dengan demokrasi politik, negara akan bisa diyakinkan untuk mengakomodasi hak-hak ekonomi dan politik kelas masyarakat yang terpinggirkan oleh kapitalisme, Ide klasik sosial demokrasi(sosdem) adalah orientasi mengatasi kesenjangan sosial ekonomi, perluasan kesempatan partisipasi kaum yang kurang beruntung, mewujudkan keadilan sosial dan demokratisasi.

Dua ciri khas utama dari pandangan sosdem klasik adalah pemanfaatan kekuasaan negara untuk meng-counter laju bisnis swasta dan fokus pada upaya mengurangi kesenjangan material, antara lain melalui pajak progresif serta pengarahan negara dalam pemberian jaminan pendidikan, kesehatan, pensiun dan jaminan kesejahteraan untuk warga negara. Sementara, ciri khas utama dari neoliberalisme menurut Giddens adalah pereduksian peran negara secara substansial dan reformasi sistem jaminan kesejahteraan untuk meningkatkan peran pasar didalam bidang jaminan-jaminan kesejahteraan.Sebagai alternatif bagi keduanya, Giddens mengemukakan gagasan sosdemnya yang menolak intervensi negara, menolak ”praktik persamaan ” sebagai cita-cita sosdem, dan mempromosikan redistribusi kesempatan sebagai solusi mengatasi ketidaksamaan.

Semua tujuan sosialisme demokratis ini mempunyai persamaan dalam satu hal yaitu membuat demokrasi lebih nyata dengan jalan memperluas pemakaian prinsip-prinsip demokrasi dari lapangan politik ke lapangan bukan politik dari masyarakat. Sejarah menunjukkan, masalah kemerdekaan merupakan dasar bagi kehidupan manusia. Kemerdekaan memeluk agama-kepercayaan, mendirikan organisasi politik dan sebagainya merupakan sendi-sendi demokrasi. Jika prinsip demokrasi telah tertanam kuat dalam hati dan pikiran rakyat, maka kaum sosialis dapat memusatkan perhatian pada aspek lain. Sebaliknya, di Negara yang masih harus menegakkan demokrasi, partai sosialis harus berjuang untuk dapat merealisasikan ide tersebut. Misalnya di Jerman masa kerajaan kedua (1870-1918) yang bersifat otokratis, partai sosialis demokratis senantiasa bekerja dengan rintangan yang berat. Lembaga parlementer hanya sebagai selubung untuk menutupi pemerintahan yang sebenarnya bersifat diktaktor. Pada masa Bismarck berkuasa, kaum sosialis demokrasi dianggap sebagai” musuh-musuh Negara”, dan pemimpin partai yang lolos dari penangkapan melarikan diri ke Inggris dan Negara Eropa lainnya. Demikian pula pada masa republik Weiner (1919-1933), partai sosial demokratis Jerman juga tidak berdaya karena tidak ada pemerintahan yang demokratis.

Sosial Demokratis juga dapat kita lihat perkembangannya di Indonesia. Salah satunya lewat pemikiran Sutan Sjahrir yang banyak dikenal sebagai Perdana Menteri pertama RI. Sutan Syahrir adalah salah satu dari 4 serangkai yang mengambil posisi dalam pemerintahan awal-awal Republik Indonesia disamping Soekarno, Amir Syarifuddin Harahap dan Mohammad Hatta. Beliau adalah tokoh utama dalam perundingan-perundingan RI dan Belanda dalam rangka menentukan siapa yang berdaulat atas Indonesia. Pada tanggal 14 November 1945 ia dijadikan Perdana Menteri (PM) oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang sejak itu menjalankan fungsinya sebagai DPR. Ideologi Sutan Syahrir adalah sosial-demokrat suatu cabang Marxisme yang menghendaki pencapaian masyarakat dari bentuk kapital menuju sosialisme kemudian titik ideal yaitu komunisme harus melalui jalan damai dan kelembagaan kapitalisme itu sendiri salah satunya melalui parlemen.

Sutan Syahrir menganutnya sejak ia belajar di negeri Belanda, yang secara prinsipil menolak perang. Tetapi selama pendudukan Jepang Syahrir tidak menggunakan konsep sosial-demokrat karena dia mengambil jalan yang berbeda dengan Soekarno atau Hatta. Syahrir menolak bekerjasama dengan tentara Jepang dan melancarkan “gerakan bawah tanah” sama seperti Amir Syarifuddin. Oleh karena itu menjelang proklamasi 17 Agustus ketika para pemuda mencari Amir Syarifuddin Harahap untuk menjadi proklamator sang calon proklamator sedang dalam jeruji Jepang, kemudian pemuda mendatangi Syahrir karena dia tokoh gerakan bawah tanah tetapi Syahrir memandang dirinya tidak cukup layak untuk memproklamasikan kemerdekaan, sehingga dia menyarankan pemuda menemui Soekarno. Sutan Syahrir sangat menitikberatkan pada upaya-upaya melakukan pendidikan untuk rakyat. Kolonialisme bisa bertahan lama di bumi pertiwi, karena kemiskinan dan kebodohan membuatnya semakin terperdaya.

Tanah BuanganKe Tanah Buangan

Kembali dari studi di Belanda tahun 1931, Sutan Sjahrir langsung bergulat dengan dunia pergerakan, dan bersama Bung Hatta mendirikan PNI Baru. Sutan Sjahrir memimpin PNI Baru organisasi yang menghimpun kaum pergerakan nasional. PNI Baru mendidik kader-kader pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusioner kemerdekaan nasional. Ketakutan akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934 pemerintah kolonial Belanda menangkap dan memenjarakan Sjahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke Boven Digul Papua selama setahun. Mereka lalu dipindahkan ke Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun. Di depan sidang Dewan Kemanan PBB tanggal 14 Agustus 1947 Sutan Sjahrir menyampaikan pandangan politik. Ia mengupas Indonesia sebagai sebuah bangsa yang memiliki budaya dan peradaban lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, pada forum itu secara cerdas Bung Sjahrir juga mematahkan argumen-argumen yang disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Melalui jalan politik diplomasi ini, akhirnya Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah negara berdaulat dan bermartabat di pentas internasional. Jalan Politik yang diambil Sutan Sjahrir, sesungguhnya dilatarbelakangi oleh jiwa patriotik dan pemikirannya yang menjunjung tinggi persamaan derajat setiap manusia. Sutan Sjahrir dengan tegas menolak segala bentuk totalitarianisme. Baik totalitarianisme kanan dalam bentuk fasisme, maupun komunisme sebagai wujud totalitarianisme kiri. Keduanya mengekang kebebasan perorangan yang membuat manusia tidak lebih dari budak kekuasaan semata.

 Menurut Sutan Sjahrir nasionalime harus berpijak pada demokrasi, karena nasionalisme bisa tergelincir pada fasisme jika bersekutu dengan feodalisme lokal. Nasionalisme juga bisa menjadi chauvinistik dalam hubungan internasional, jika tidak dilandasi pemikiran humanistik (kemanusiaan). Hal ini yang dialami oleh Hitller dan Musolini yang kemudian menimbulkan Perang Dunia kedua. Penegasan Sutan Sjahrir akan jalan demokrasi dan penentangan terhadap segala bentuk totalitarianisme, ia mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Sosialisme yang dimaksudnya adalah sosialisme berdasarkan kerakyatan yang mengakui kemerdekaan setiap orang untuk berpikir dan bertindak sesuai keyakinannya. Sutan Sjahrir menekankan secara jelas tujuan dan strategi kaum sosialis berbeda dengan kaum komunis. Diktator Proletar sebagai sebuah tahapan revolusi bagi kaum komunis, buat kaum sosialis merupakan bentuk kediktatoran yang melanggar prinsip-prinsip demokrasi. Syahrir dan juga umumnya kaum sosial demokrat memang secara teoritis merevisi theori Marxist tentang Diktaktur Proletariat sekalipun itu sebagai transisi untuk merubah masyarakat ke bentuk sosialisme.

Pemikiran Sosialisme Demokrat Sutan Sjahrir 

Sutan Sjahrir adalah salah satu tokoh yang bergerak dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia. Sjahrir terkenal sebagai Perdana Menteri pada masa Demokrasi Parlementer, selain itu Ia juga mewakili Indonesia di dunia Internasional seperti dalam Perjanjian Linggarjati, perundingan PBB dalam pengakuan kemerdekaan Indonesia, dan lainnya. Pemikiran Sosialime Sjahrir tumbuh ketika ia mengenyam pendidikan di Negeri Belanda sebagai mahasiswa Hukum Universitas Amsterdam, disana Ia bergabung dengan Amsterdamsche Social Demokratische Student Club, yaitu sebuah organisasi pemuda yang terkait dengan partai buruh democrat social Belanda.

 Untuk pertama kalinya Sjahrir melihat bagaimana hak rakyat diakui bahkan terhadap orang – orang Hindia Belanda yang ada di sana. Sjahrir mempelajari sosialisme dari tulisan – tulisan Hilferding, Rosa Luxemburg, Karl Kautsky, Otto Bauer, Hendrik de Man, tentunya Marx dan Engels. Ia juga pernah bekerja pada serikat buruh yaitu Sekretariat International Transport worker’s Federation. Sjahrir juga menjadi anggota PI bersama dengan Mohammad Hatta dan ikut serta dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

 Ketika kembali ke Indonesia, Sjahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru setelah PNI bubar ketka Soekarno ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah Belanda. Sjahrir menyadari pentingnya pendidikan sebagai modal dari masyarakat yang sejahtera dan merdeka. Sjahrir memandang sebuah partai dengan kader – kader yang terdidik secara matang dalam partai lebih bermafaat dalam perjuangan kemerdekaan dibanding sebuah partai dengan basis massa besar namun tanpa pendidikan politik yang sesuai. Hal ini dikarenakan Sjahrir ingin membentuk sebuah kader politik yang dapat berdiri sendiri meskipun pemimpinnya disingkirkan.

Pada tahun 1934, Sutan Sjahrir dan Mohammad Hatta ditangkap dan dibuang ke Boven diguel dan baru dibebaskan menjelang penyerbuan Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, Sjahrir memilih untuk mengorganisir gerakan bawah tanah karena sikapnya yang anti fasis. Bagi Sjahrir, kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang akan dianggap kolaborator fasisme Jepang sehingga ketika mengetahui kekalahan Jepang melalui radio, Sjahrir dan para pemuda lain yang ikut bergerak dalam pergerakan bawah tanah mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, Sjahrir memusatkan perhatiannya terhadap penyusunan kekuatan dari rakyat dan berjuang secara terbuka.

Dalam Konferesi Sosialis Asia pada tahun 1953, Sjahrir menyampaikan pandanganya mengenai nasionalisme. Dalam pandangannya, nasionalisme harus berpijak pada demokrasi karena nasionalisme bisa menjadi paham fasis jika bersatu dengan feodalisme dan bisa menjadi chauvistik dalam hubungan Internasional jika tidak dilandasi dengan pemikiran kemanusiaan. Dari nasionalisme tersebut maka terciptalah individualitas dan kepribadian sebuah negara.

Sosialisme yang dianut oleh Sjahrir dan menurutnya cocok untuk Indonesia adalah Sosialisme kerakyatan dimana mengakui kemerdekaan setiap orang untuk berpikir dan bertindak sesuai keyakinannya. Sjahrir menekankan bahwa tujuan kaum sosialis dan komunis berbeda. Sjahrir menolak obscruantisme, yaitu pembatasan Ilmu pengetahuan dan pemikiran, chauvisme dan diktator seperti yang terjadi di Cina dan Uni Soviet. Sjahrir menegaskan bahwa paham Sosialis dan Komunis memiliki tujuan dan strategi yang berbeda, Ia berpendapat bahwa Sosialis berarti menghargai martabat manusia.

 Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI) pada tahun 1948, dianggap sebagai partai elit karena anggotanya berasal dari kalangan yang mengecap pendidikan tinggi di kota dibanding massa dari daerah – daerah. Partai ini memfokuskan kegiatannya dalam pengkaderan politik sehingga memiliki pengaruh yang berbeda dari partai berbasis massa seperti PKI atau Masyumi dan kalah dalam Pemilu 1955. Karena dianggap berbahaya pada masa demokrasi terpimpin, Sutan Sjahrir ditahan pada tahun 1962 atas tuduhan keterlibatan dala PRRI Permesta oleh Soekarno.

PSIPengaruh Sosialisme Demokrat terhadap Pandangan Sutan Sjahrir

Bagi Sutan Sjahrir dan PSI, sosialisme adalah suatu cara memperjuangkan kemerdekaan dan kedewasaan manusia, yaitu bebas dari penindasan serta penghinaan oleh manusia terhadap manusia lainnya. Sosialisme Sjahrir mendasarkan sosialisme pada kesanggupan rakyat dan bangsa Indonesia dalam mewujudkan sosialisme tersebut, melihat Indonesia sudah mempunyai Negara dan pemerintahan sendiri. Sosialisme yang diperjuangkan oleh Sjahrir adalah musuh penindasan serta penghisapan rakyat. Pemikiran sosialisme Sjahrir ini didasarkan pada kerakyatan. Kerakyatan yang dimaksud disini adalah pemerintahan rakyat yang dilaksanakan oleh rakyat dan untuk rakyat yang mengandung hak-hak kemanusian seperti:

  1. Memiliki kehidupan sendiri tanpa gangguan Negara
  2. Adanya persamaan tiap warganegara dalam bidang hukum, apapun juga
  3. Jalan pemilihan perwakilan rakyat merdeka, sama dan rahasia
  4. Pemerintah dijalankan oleh mayoritas, namun menjunjung hak-hak minoritas
  5. Pembuatan UU dikuasai oleh perwakilan rakyat
  6. Pengadilan tidak dipengaruhi oleh pemerintah, sehingga keputusannya adil

Kerakyatan harus dipertahankan dari diktator dan totaliterisme. Sjahrir, dan golongannya yang tergabung dalam Partai Sosialis Indonesia (PSI) menyadarkan dan mengatur kaum buruh supaya mereka mengikuti perjuangan sosialis dengan membentuk serikat kerja sehingga memperoleh sokongan politik untuk memelopori perjuangan kaum buruh untuk mencapai suatu masyarakat yang tidak lagi mengenal penghisapan terhadap kaum buruh, yaitu masyarakat sosialis. Ia juga berusaha memperoleh persetujuan serta sokongan kaum tani dan kaum miskin, serta kaum terpelajar untuk perjuangan mendirikan masyarakat sosialis di Indonesia. Pemikiran sosialisme Sjahrir dapat dilihat dari pandangan Sjahrir terhadap ajaran Negara, masyarakat serta ekonomi.

Sjahrir berpendapat bahwa Negara tidak akan maju jika tidak berkeyakinan bahwa dasar kehidupan itu adalah menyelenggarakan kekayaan dan kemampuan rakyat.[8] Sumber kehidupan rakyat harus diusahakan dengan membangkitkan rakyat untuk produktif dan kreatif. Dan hal tersebutlah yang seharusnya menjadi tujuan pokok Negara. Pemerintah harus mampu menjalankan tugasnya dengan mengedepankan rakyat dan tidak mendahulukan kepentingan pribadi maupun golongan tertentu. Sjahrir menolak  pengambil alihan pengendalian Negara oleh militer. Jika dikatakan pengendalian Negara dengan cara disiplin militer menjadikan Negara ini kuat dan kompak, Sjahrir justru mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan berhasil. Yang terpenting pemimpin adalah seorang yang jujur dalam baktinya terhadap bangsa dan Negara, serta mampu membangun masyarakat dengan mengarahkan jiwa kerakyatan untuk hal-hal positif.  Selain itu Sjahrir mengingatkan bangsanya untuk menolak paham komunis. Suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia hendaknya menentukan nasibnya sendiri sebagai bangsa yang berdaulat, jika dikuasai komunis, suatu bangsa akan tergantung pada Uni Soviet atas nama Komunis Internasional. Sehingga ajaran Negara yang benar sesungguhnya adalah Negara yang menjunjung tinggi kemajuan rakyatnya, dengan kata lain adalah Negara yang mengimplementasikan sosialisme demokrat sebagai pengajaran.

Pandangan Sjahrir tentang masyarakat mengatakan pembangunan untuk rakyat dan masyarakat dewasa itu tidak diharapkan hanya dari uang, tapi yang terpenting adalah manusianya. Manusia yang diberikan kepercayaan untuk pembangunan. Pembangunan untuk menyadarkan kembali jiwa masyarakat tentang keinginan bercita-cita. Dan masalah yang dihadapi adalah membangun jiwa bangsa Indonesia. Indonesia memerlukan alat produksi yang lebih baik. Semua untuk rakyat, dan menjadi urusan bersama, untuk itu masyarakat harus lebih giat bekerja untuk mencapai apa yang dicita-citakan bersama.

Kemudian, dilihat dari pandanga Sutan Sjahrir mengenai ekonomi, Sutan Sjahrir berpendapat keadaan ekonomi yang ideal yaitu penghasilan orang dalam setahun dapat menjamin kesejahteraan jasmani dan rohani semua masyarakat serta pembagian kerja yang efisien, sesuai kemampuan. Tujuan ekonomi sosialis pada intinya yaitu terjaminnya kehidupan warga Negara, mengusahakan tidak adanya pengangguran, bertambahnya produksi serta upaya pembagian pendapatan dan harta merata.

Penutup

Sosialisme kerakyatan dapat diartikan sebagai suatu bentuk ajaran, gagasan atau sistim masyarakat sosialis yang berdasarkan kemanusiaan yang umum. Latar belakang perjuangan rakyat untuk merdeka mengilhami Sjahrir untuk memilih kerakyatan dan kemanusiaan sebagai tema perjuangan yang sosialistis. Ideologi saat itu dianggap penting, dan Sjahrir serta kelompoknya tertarik pada perjuangan sosialisme kiri kaum Austria, ditambah pergaulannya dengan partai kiri Belanda, serta buku-buku karangan Karl Kautsky, Otto Baurer dan Hendrik de Man. Ideoliginya yang melekat kemudian melibatkan dirinya dalam pertarungan dengan ideology lain yang berkembang di Indonesia pada saat itu. Titik berat perjuangan rakyat bertumpu pada golongan buruh dan tani serta wujud kemanusiaan.

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *