Debussy dan gamelan

Perancis, negara yang terkenal dengan monumen ikoniknya Menara Eiffel ini tidak hanya memiliki tradisi seni visual yang kental namun juga memiliki tradisi musik klasik yang tersohor. Hal tersebut terbukti dengan pengakuan dunia terhadap salah seorang komposer asal Perancis yang bertalenta dan jenius, Claude Debussy. Lalu apa hubungan antara Claude Debussy dengan Gamelan Jawa?

Debussy dan gamelanDebussy first heard Javanese gamelan music from a relatively small group at the 1889 Paris Exposition Universelle

Sebagaimana dilansir oleh NationalGeographic.co.id hubungan keduanya bermula di tahun 1889 pada saat peringatan satu abad revolusi Perancis. Saat itu seluruh Perancis menggelar pekan raya serta melakukan peresmian menara Eiffel. Di kaki menara besi raksasa yang menjulang dan menjadi kebanggaan dari teknik konstruksi modern saat itu terdengar dengungan permainan gong perunggu dan iringan Gamelan Jawa.

Ritmenya yang terdengar cukup aneh bagi orang Eropa saat itu dan iraman gendingnya yang dianggap khas ternyata menarik hati Claude Debussy yang saat itu berusia 27 tahun. Momen ini merupakan awal perjumpaan dan perkenalan komponis muda tersebut dengan gamelan Jawa, yang dipercaya akhirnya mewarnai gaya dan aliran musik yang dimainkannya. Debussy mengaku tidak hanya terpesona dengan kualitas suara yang dihasilkan oleh gamelan, tetapi juga karena kompleksitas komposisi gamelan gending Jawa yang menurutnya selalu mematuhi alur panjang. Dirinya bahkan menjelaskan bahwa Palestrina atau seorang musisi hebat jika diminta memainkan piano dengan partitiur Liszt akan mampu melakukannya dengan sangat mudah.

 “Jika mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling.” Alat pemukul gending yang berat dan alat tabuh yang lembut untuk memainkan gamelan tersebut menghasilkan melodi yang didasarkan pada dua irama (laras) yang berlainan. Laras slendro terdiri dari lima interval dalam satu oktaf. Sedangkan laras pelog terdiri dari tujuh interval yang tidak sama. Ketakjuban Debussy, kenangan, dan kiasan-kiasan akan gamelan Jawa terlihat kuat pada warna nada pentatonik Pagodes (Pagoda), bait pertama d’Estampes (Ilustrasi) yang digubah tahun 1903, nantinya juga terlihat dalam dua belas prelude 1910-1913, La fille aux cheveux de lin (Gadis berambut linen), Feuillis mortes (Daun-daun kering), serta lagu misterius—Canope miliknya.

Kemudian di tahun 1913, ketika dalam perjalanan kembali dari Laut Selatan, Debussy menggunakan lagi keseluruhan warna nada gamelan dan menulis: “Leur conservatoire, c’est le rythme éternel de la mer, le vent dans les feuilles…”(Konservatori mereka adalah ritme abadi lautan, embusan bayu pada dedaunan…) Bait itu terdapat dalam karyanya sendiri dalam orkestra yang sangat terkenal, berjudul La Mer (Lautan) (1903-1905).

Apa yang dilakukan oleh Debussy menggambarkan bahwa Gamelan Jawa memang lebih dari sekadar permainan musik yang memainkan nada namun juga sebuah resonansi unik. Hal tersebut tergambar dari teknik musik yang secara konsisten dilakukan oleh Debussy yang didasarkan pada alat-alat tabuh yang paradoks dari nuansa mistikal dan luwes namun tetap menggunakan pedal piano untuk memperpanjang durasi suara. Permainan piano Debussy dianggap sangat reseptif dan cenderung tidak memerlukan sentuhan. Eksplorasi resonansi yang dilakukan Debussy menjadi harmonisasi nada yang tetap independen namun menghasilkan kesan suasana yang sangat berbeda dan unik. Debussy adalah seorang komponis Eropa pertama yang menanggalkan konsep Barat dalam hal harmonisasi. Penciptaan ketegangan yang mengarah pada konklusi, untuk mengganti, seperti yang ditulisnya, “getaran keindahan suara itu sendiri”.

disadur dari tulisan Gloria Samantha, National Geographic

Note:

Tokoh musik kotemporer Slamet Abdul Sjukur, banyak yg salah kaprah kalau Debussy terpengaruh gamelan Jawa, padahal yang di dengar pada tahun 1889 gamelan Sunda.

According to Echoes from the East: The Javanese gamelan and its influence on the music of Claude Debussy, a 1988 dissertation for the University of Texas, Austin, by Kiyoshi Tamagawa. “Sirènes” from his Nocturnes, a piece in which Tamagawa demonstrates extensive influence of gamelan music; this influence is best discerned in the two-piano version presented here.

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *