Industri Pariwisata Harus Segera Beradaptasi dan Berbenah

Selama pandemi, data United Nations World Tourism Organization (UNWTO) mencatat jumlah kunjungan wisatawan di seluruh dunia menurun 44 persen dibandingkan tahun lalu. Sementara itu Indonesia mengalami 2 kali lipat penurunan dibanding data UNWTO tersebut

Semenjak pandemi melanda, Indonesia terus mengalami penurunan di sektor pariwisata hingga 80,9%. Khusus Bali, dicatat mengalami kerugian mencapai 9,8 triliun per bulan. Menurut BPS. tingkat pertumbuhan Bali pada kuartal II/2020 dicatat anjlok 10,98 persen secara YoY, Kepulauan Riau turun 6,66 persen YoY, dan Jawa Barat merosot 5,98 persen YoY.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo saat membuka FGD dengan tema “Penguasaan dan Pengembangan Teknologi di Sektor Pariwisata” yang diselenggarakan Aliansi Kebangsaan, Forum Rektor Indonesia (FRI), Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Jakarta, (18/12/2020).

“Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menyiapkan berbagai kebijakan, salah satunya lewat dana hibah pariwisata. Pemerintah juga telah menyusun program Cleanliness, Health, Safety, and Environment (CHSE) sebagai tatanan adaptasi kebiasaan baru di destinasi wisata dengan melibatkan para pelaku pariwisata,” tambah Pontjo.

Pariwisata Belum Didukung Perencanaan Matang

Di tempat yang sama, pakar AIPI yang juga dosen ITB Satryo Dr Ir Myra P Gunawan MT menyatakan jika harapan tinggi terhadap pariwisata Indonesia belum didukung dengan perencanaan yang matang. Hal ini menyebabkan pembangunan pariwisata Indonesia terhambat oleh banyaknya pembangunan sektoral dan tumpang tindih antara sektor-sektor disiplin ilmu.

Di sisi lain, perkembangan industri pariwisata di Indonesia belum mengalami pemerataan sehingga menimbulkan kesenjangan pada sejumlah daerah terutama di timur Indonesia,” katanya.

Masalahnya industri pariwisata sering disalahartikan semata-mata sebagai industri sumber daya alam, padahal industri ini menyangkut pengetahuan, sumber daya intelektual yang memiliki visi ke depan serta kemampuan menelaah permasalahan dan potensi dari dalam.

Karena itu menurut Myra kembali, untuk meningkatkan potensi industri pariwisata, pihak-pihak terkait harus berpegang pada empat pilar pembangunan pariwisata, yakni pembangunan destinasi, pengembangan pemasaran, pengembangan institusi atau kelembagaan, serta pengembangan sumber daya intelektual.

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published.