Men of paradox

Bung Kecil, Sjahrir

Sebutan man of paradox berasal dari tulisan DANIEL DHAKIDAE ketika menulis tentang Bung Kecil Sutan Syahrir.  Tubuhnya kecil dengan tinggi 145 sentimeter dan berat badan 45,5 kg namun tersimpan ernergi dahsyat, intelegensia yg mengagumkan. Beliau salah satu dari tujuh begawan revolusi  Indonesia – Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Tan Malaka, Sudirman, dan A.H. Nasution.

Meninggalkan studinya di Leiden untuk pulang berjuang di Tanah Air dan ketika ditanya mengapa tidak menyelesaikan studinya? Di jawab dengan enteng, seorang bertitel itu hanya pemegang titel sahadja. Namun Sjahrir menukik tajam ke dalam soal Ilmu seperti tertuang dalam karyanya Indonesische Overpeinzingen 1936 ( IO ). “Lama-kelamaan saya tahu bagaimana membebaskan diri dari perbudakan ilmu resmi (de slavernij van de offici le wetenschap). Otoritas ilmiah tidak terlalu berarti bagiku secara batin. Yang lebih penting bagiku adalah bagaimana tiba pada kebenaran harmonis dan pribadi sifatnya”

Mungkin karena dalam memberikan jawaban atas pertanyaan responnya sinis sehingga di kesankan sombong dan uniknya persepsi ini diberlakukan kepada anggota partai PSI ( Partai Sosialis Indonesia ) yg dibubarkan Presiden Soekarno bersama dengan Partai Masjumi.  Konon kekalahan dalam Pemilu 1955 karena partainya terlalu elitis – petingginya orang2 pinter kurang membumi.  Ketika Syahrir dalam penjara di era Orla terdapat dua fraksi; pimpinan Soedjatmoko yg tetap bebas dan pimpinan Soemitro Djojohadikoesoemo yg terlibat pemberontakan PRRI dan bermukim di Malaysia.

Menjelang berakhirnya pemerintahan Orla Bung Kecil menderita sakit dan atas upaya berbagai sahabat berobat ke Swiss. Menurut kakak seorang teman sakitnya Syahrir karena perlakuan yg dialami selama didalam penjara.  Jenazahnya di bawa pulang ke Tanah Air sebagai pahlawan dan memperoleh sambutan yg luar biasa. Pada masa itu pemerintahan sudah berganti, dari Orla ke Orba.

Supriyadi dari Blitar ( pahlawan Peta  )

Bakda Magrib seorang pensiuan tepatnya pengangguran, Soedjarni Dipokoesoemo kedatangan tamu seorang sahabat lama, Darmadi.  Keduanya alumni sekolah Osvia ( sekolah pangrehpraja ) angkatan pertama di Blitar. Sama2 dikenal nakal, karena kepingin menikmati makan tebu bakar ladang dekat halaman sekolah dibakar, akibatnya berurusan dengan AW ( Asisten Wedana ).  Kedua swahabat ini bersumpah, dengan menepuk tangan yg dibasahi ludah untuk setia bersahabat.

Pa Darmadi diancam oleh Tentara Jepang supaya menyerahkan putra sulungnya Supriyadi yg menjadi tokoh pemberontakan Peta, keesokan harinya. Untuk itu meminta pertimbangan sahabatnya itu. Dijawab, mas kita sama2 nakal tetapi menyerahkan nasib anak tidak akan kita lakukan.  Pa Darmadi lantas pulang keesokan harinya melapor ke tentara Jepang bahwa tidak tahu keberadaan putranya. Seketika itu di seret dengan mobil keliling kota Blitar – dengan luka parah.  Setelah kemerdekaan pa Darmadi menjabat Bupati Blitar.

Banyak cerita berkembang ttg keberadaan Supriyadi – diantaranya disembunyikan secara gaib oleh guru spiritualnya

Harjosemiarso, Kepala Desa Sumberagung pada jaman penjajahan Jepang, beberapa saat setelah pecahnya pemberontakan Blitar Februar1 1945 mengaku pernah menyembunyikan Supriyadi di rumahnya selama beberapa hari. Ronomejo, Kamituwo Desa Ngliman, Nganjuk mengaku pernah ikut menyembunyikan Supriyadi di gua di sekitar Air Terjun Sedudo. Ia bahkan pernah mengantar Darmadi, ayahanda Supriyadi datang ke tempat persembunyian. Seorang Jepang mantan pelatih Supriyadi di Seinendojo, Tangerang, Nakajima pada Maret 1945 mengaku pernah didatangi Supriyadi saat bertugas di Salatiga. Ia sempat menyembunyikan Supriyadi beberapa hari sampai akhirnya Supriyadi pamit akan menuju Bayah, Banten Selatan (Tempat sembunyi yang sama dengan Tan Malaka). H Mukandar, tokoh masyarakat di Bayah, Banten mengaku pada bulan Juli 1945, dirinya pernah merawat seseorang yang terkena disentri. Pria itu mengaku bernama Supriyadi. Sayang jiwa si pria malang tak terselamatkan. Ia pun dikuburkan di Bayah. Ketika ditunjukkan foto para kadet Seinandojo PETA di Tangerang, dengan tepat Mukandar menunjuk pada foto Supriyadi.

Terdapat juga komentar yg miring tentang Supriyadi –  Beberapa  teman di PETA justru melihatnya sebagai sosok pengecut. Ketika para perwira PETA yang lain (Muradi, Supardjono, Suryo Ismangil, Halir Mangkudijaya, Soedarmo, Soenanto) harus bertanggungjawab dengan merelakan kepalanya untuk dipenggal di Ancol demi pasang depan menyelamatkan nyawa anak buahnya, Supriyadi malah lari. Dalam Kabinet pertama RI, Supriyadi tercantum sebagai Menteri Pertahanan tanpa pernah hadir.

Jauhari sebelum berdomisi di Blitar Soedjarni menjabat di wilayah Grobogan Purwodadi, sempat menjadi AW Ngawen.  Ketika itu terjadi pemberontakan Komunis pimpinan Kyai Misbach  untuk wilayah Grobogan. Pemberontakan ini rangkaian dari aksi mogok buruh Kereta Api tahun 1926 pimpinan Semaun yg didukung oleh anggota ex Syarekat Islam pimpinan Tjokroaminoto.  Sebagai pejabat dengan nekat seorang diri membubarkan  rapat akbar tersebut, setelah kaki seorang pimpinan rapat yg duduk di podium menempelkan kakinya ke wajah Soedjarni yg sedang menyamar.  Seketika ditarik kemudian ditempeleng sehingga rapat bubar.

Pemerintah Belanda berniat membuang  ke Digul sejumlah tokoh masyarakat yg terlibat aksi  namun dalam suatu rapat Soedjarni menolak karena banyak tokoh hanyalah ikut2an. Jika nantinya bergolak siapa yg bertanggung jawab ? Tanya Asisten Residen yg orang Belanda. Saya yg bertanggung jawab jawab  Soedjarni.

Setelah merdeka Soedjarni Dipokoesoemo diminta untuk mengajukan hak pensiun namun di tolak. Alasannya singkat yaitu sudah terlanjur bersumpah setia kepada Pemerintah Kolonial.

Republik Indonesia pada zaman revolusi, dengan demikian, bukan merupakan akibat dari proses sosial yang impersonal dan tak terhentikan, melainkan hasil interaksi ribuan orang dan organisasi, kelompok angkatan bersenjata dan badan perjuangan, politikus nasional dan lokal, idealisme dan oportunisme, patriotisme dan banditisme, pahlawan dan pengecut  – (HARRY POEZE ).

Tepat seperti kata Bung karno bahwa negara ini didirikan oleh Blood, Sweat and Tears.

Isi  tulisan  dikumpulkan  oleh

gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

One thought on “Men of paradox

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *