Noble Prize 2015 CONSUMPTION, POVERTY AND WELFARE

Sri Mulyani mengakui, membuat kebijakan publik untuk mengentaskan 28,6 juta penduduk miskin dan 62 juta penduduk rentan kemiskinan adalah pilihan yang penuh dengan kesulitan. Menurut dia, setiap keputusan yang diambil Menteri Keuangan untuk memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan betul-betul dinikmati masyarakat miskin selalu melibatkan emosi masyarakat.

“Menjadi Menteri Keuangan adalah menteri yang mengelola emosi,” Oleh karena itu, selain menjaga nurani dan integritas sebagai pejabat negara, Sri Mulyani juga meminta kontribusi masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan, salah satunya melalui pengawasan yang objektif terhadap setiap kebijakan pemerintah.

“Awasi dengan kritis, dilihat secara benar, dan berikan masukan. Masyarakat harus yakin bahwa Rp2.000 triliun uang negara (APBN) dibelanjakan dengan baik, benar, dan penuh amanah,”

Distribusi dan konsumsi kepada individu mengemban isu penting termasuk ketidak setaraan dan kemiskinan – terhadap masyarakat ekonomi, politik dan social. Pada umumnya negara agregat konsumsi menjadi komponen terbanyak dari seluruh agregat demand  sedemikian rupa sehingga diperhitungkan dalam kegiatan ekonomi dari sudut waktu.  Untuk level income tertentu konsumsi menentukan saving berdampak kepada investasi  lewat supply dari kapital.  Dengan demikian bersifat alami jika konsumsi menjadi pusat resit bidang ekonomi sepanjang abad terakhir.

Dia membuat kontribusi yang fundamental dan berhubungan mengenai besaran, teori dan analisa empiris tentang konsumsi (the measurement, theory, and empirical analysis of consumption ). Prestasi utamanya ada tiga :

Pertama, hasil resit Deaton memaparkan estimasi dari sistem demand

Kedua, hasil resit Deaton mengenai agregat demand merintis jalan revolusi mikro ekonomi didalam studi konsumsi dan saving sepanjang waktu. Dia melakukan klarifikasi  mengapa Peneliti wajib mengambil isu2 agregat secara serius agar bisa mengerti konsumsi total dan saving total, nantinya terbukti bahwa hasil resit akan membahas makro ekonomi melalui data2 mikro ekonomi yang makin tersedia.

Ketiga. Deaton mempelopori survei data rumah tangga di negara2 berkembang khususnya data konsumsi untuk mengukur living standard dan kemiskinan. Dengan melakukan itu Deaton membantu transformasi ilmu  ekonomi pembangunan yang dulunya sangat teoritis berbasis data makro yang mentah menjadi wilayah yang didominasi suatu resit empiris berbasis mikro data yang berkwalitas tinggi. Dia menunjukkan  nilai pemakaian data konsumsi dan pengeluaran untuk menganalisa kesejahteraan kalangan miskin serta membuat indikasi segera ketika membandingkan living standard sepanjang waktu dan tempat.

Hasil resit Deaton menangani isu2 penting dan memberikan kontribusi berpengaruh terhadap pengambil keputusan di negara2 maju dan negara2 berkembang.  Karyanya meliputi dimensi yang luas mulai dari implikasi teori secara mendalam sampai kepada besaran detail.  Tema umumnya mengkaitkan teori  dengan  pengukuran ( theory and measurement ) serta mengkaitkan data mikro dengan data makro dengan mempergunakan metode statistik yang relevan.

Dengan demikian besar manfaatnya bagi para ekonom Indonesia terutama yang muda2 mendalami karya Angus Deaton ini mengingat kita masih punya 29 juta rakyat miskin dan ekonomi kita ditunjang oleh konsumsi ( 55% dari PDB ).

Berikut adalah terjemahan  dari  uraian singkat dari The Royal Swedish Academy of Sciences mengenai  Consumption, Poverty and Welfare karya Angus Deaton, peraih Nobel Prize bidang ekonomi 2015.

GG

gandatmadi46@yahoo.com

Noble Prize 2015

                                                                                                                                                   CONSUMPTION, POVERTY AND WELFARE

By

ANGUS DEATON

Consumption, great and small

Konsumsi terhadap barang dan jasa menjadi fondasi penentu ( fundamental determinant )  dari kesejahteraan manusia  ( human welfare ). The Laureate, Angus Deaton, mendalami pengertian tentang aspek konsumsi. Resitnya berkaitan dengan isu paling penting dari kesejahteraan manusia, tidak sebatas di negara2 miskin.  Resit Deaton berpengaruh besar terhadap pengambil keputusan dan kepada  kalangan ilmuwan . Dengan menekankan keterkaitan antara keputusan untuk konsumsi per individu  dengan outcome ( national income ), maka karyanya membantu transformasi ekonomi mikro moderen dengan makro ekonomi serta ekonomi pembangunan.

Demand systems and microeconomics

Suatu sistem demand adalah satu set persamaan yang memperlihatkan level demand konsumsi untuk bermacam macam barang dan jasa: satu persamaan  untuk demand pakaian, yang lain untuk demand makanan dst. Setiap persamaan memperlihatkan  demand untuk satu jenis barang bervariasi dengan harga seluruh barang, income dari konsumen dan faktor demografi. Sistem ini berguna bagi kebijakan ekonomi. Sebagai contoh jika Pemerintah bermaksud menaikkan VAT untuk produk makanan, atau mengurangi tax income kepada kelompok tertentu, hal ini sangat vital untuk mengetahui dampak dari reformasi yang berdampak kepada konsumsi bermacam jenis barang, apakah kelompok sosial tertentu mendapat manfaatnya atau sebaliknya.

Ketika seorang peneliti dihadapkan kepada  suatu fungsi demand dengan data maka sistem mesti diisi dengan sejumlah persyaratan agar reliable ( terpercaya )  dan bermanfaat. Tentunya sistem tersebut pas atau fit dengan pola dari data yang di observasi.  Supaya mendapat efek kesejahteraan yang berarti, mesti compatible dengan theory rational consumers ( dengan asumsi konsumen berpikir dan bertindak rasional ). Dalam kurun waktu 1960an dan 1970an sejumlah ekonom melakukan tes thd demand yang lagi exist dan menemukan bahwa mereka tidak akurat memprediksi bagaimana berkaitan dengan harga dan income,  juga nampaknya tidak konsisten dengan presumption of rational consumers.  Penjelasannya tentu saja bahwa konsumen tidak sepenuhnya rasional. Bagaimanapun Deaton mendemonstrasikan bahwa sistem yang exist dibangun lebih dangkal dari pada yg dipikirkan; mereka memaksa perilaku konsumen kedalam straitjacket of assumptions, terlalu membatasi dengan  pilihan realistis konsumen.

Yang menjadi tantangan adalah membangun suatu sistem  cukup universal untuk memberikan  gambaran yang reliable terhadap pola demand yang ada di dalam masyarakat namun juga cukup simpel jika dipakai membuat estimasi secara statistik serta bermanfaat “ The solution was Deaton  and Muellbauer’s Almost Ideal Demand System from 1980 “.  Estimasi pertama berbasis sistem yang tidak memberikan jawaban secara jelas mengenai seluruh pertanyaan seputar konsumsi, tetapi sistem ini fleksibel dan berpotensi untuk dikembangkan dan di modifikasi agar mampu memberikan dorongan kuat untuk penelitian mengenai perilaku konsumen.

Setelah 35 tahun, sistem demand dari Deaton dan Muellbauer  serta pengembangannya oleh sejumlah peneliti,  tetap memakai alat standar ( standard tools )  untuk mempelajarai efek dari kebijakan ekonomi untuk membuat indeks harga, juga untuk perbandingan  terhadap living standard  seluruh negara dalam kurun waktu tertentu. Dengan kata lain hal itu memberikan impact yang besar secara akademis, juga berpengaruh besar terhadap evaluasi kebijakan secara praktis.

Consumption, income and macroeconomics

Hampir seluruh Sistem Demand Ideal menjelaskan bagaimana rumah tangga mendistribusikan konsumsi mereka diantara sejumlah barang untuk periode spesifik tertentu,  memberikan seluruh pengeluaran dalam periode tersebut. Bagaimana, jika seluruh pengeluaran mereka  tidak tersedia,  karena diputuskan sendiri oleh rumah tangga mengenai konsumsi dari tahun ke tahun.  So berapa banyak dari income mereka di pergunakan untuk konsumsi dalam periode tertentu? Hal ini menjadi isu penting dalam makro ekonomi – dari sisi lain dari total konsumsi adalah berupa saving dan evolusi dari saving sepanjang waktu penting bagi negara dalam pembentukan kapital dan siklus ekonomi (  formation and business cycles )

Pada tahun 1950an nampak kemajuan dari dua teori  yang terkenal  tentang  konsumsi,  juga saving tergantung kepada  pertumbuhan income ( national Income ).  Milton Friedman  hipotesa ttg  Permanent Income  dan  model Analogi  Life Cycle  dari Franco  Modigliani. Implikasi utama dari teori2 tersebut  bahwa individu menginginkan konsumsi yang lancar sepanjang waktu. Mereka saving ketika mengharapkan menurunnya income mereka dan meminjam dalam situasi sebaliknya. Kedua teori tsb, yang diformulasikan pada tahun 1970an, berperan dalam resit makro ekonomi. Sejumlah artikel sekitar tahun 1990 Deaton beserta co author melakukan tes  sejumlah implikasi penting dan membuat kesimpulan dari Permanent Income Hypothesis.  Hasil beberapa tes akan merubah pandangan basis  dari keterkaitan antara teori dan data,

Saat ini, hampir semua resit ekonomi makro berbasis kepada catatan  dari perwakilan konsumen  (representative consumer ) dimana konsumsi bervariasi sejalan dengan sosial agregat  atau rata2 income, dengan asumsi sederhana Deaton mampu mendemonstrasikan  bahwa  Permanent Income Hypothesis  memprediksi konsumsi bervariasi lebih banyak dari pada income.  Kasus ini disebabkan kenaikan income yg tidak diantisipasi dari  seluruh perekonomian  cenderung diikuti oleh kenaikan income pada tahun2 berikutnya.  Kelompok konsumen rasional akan mengkonsumsi  beberapa dari income yang di harapkan ( expected income ) naik  sebelum terjadi, berarti konsumsi pada saat itu akan naik lebih besar dari income pada saat itu. Oleh karena hal ini kontradiksi dengan pola agregat data dimana jumlah variasi dari konsumsi lebih sedikit dari income. Penemuan Deaton membuat seluruh teori diragukan.  Kontradiksi yang nampak antara teori dengan data dikenal sebagai  Deaton Paradox.

Deaton menerangkan bahwa kunci untuk  menyelesaikan paradox  dan lebih memahami data ekonomi makro lebih umum dengan melakukan studi tentang income dan konsumsi individu, dimana income berfluktuasi  dengan cara yg sama sekali berbeda. Kalau income dari beberapa orang turun sementara pada saat yang sama income kelompok yang lain naik,  maka akan keluar ( muncul )  sebagian besar  variasi dari income rata2 individu ketika kita menghitung representasi income konsumen. Dengan cara menempatkan bagaimana level dari  income individu terhadap konsumsi maka prediksi  dari teori akan mendekati pola dari agregat data yang kita observasi khususnya jika dipertimbangkan sejumlah individu menghadapi kendala finansial ketika ingin membeli melalui pinjaman.

Deaton juga menjelaskan ketika mempelajari data individu, standard theory memiliki tambahan prediksi dimana pihak lain tidak melihat. Sebagai contoh, distribusi dari konsumsi akan membaur ketika bertambah umur, suatu prediksi membuktikan kebenaran  sebagai suatu realita. Perluasan dari pembauran mampu menilai sejauh mana individu2 tersebut meyakini sendiri melawan shok terhadap income mereka sendiri. Pandangan yang diberikan dari karya Deaton tentang konsumsi dan income akhirnya telah berpengaruh terhadap resit ekonomi makro.  Resit2 sebelumnya ttg ekonomi makro dari Keynes kedepan mengandalkan kepada data agregat. Meskipun tujuannya untuk memahami keterkaitan pada tingkat makro, kegiatan resit biasanya mulai pada level individu dan kemudian, dengan penuh kewaspadaan, menambah perilaku individu untuk menghitung sejumlah angka dari seluruh perekonomian.

Household data and development economics

Dalam dekade barusan, Angus Deaton  melakukan resit konsumsi dan kemiskinan secara ekstensif di negara2 berkembang , memakai pandangannya  terhadap sistem demand  dan konsumsi individu sepanjang waktu.  Dia menekankan pentingnya membangun  kumpulan data secara ekstensif  mengenai  konsumsi rumah tangga terhadap beberapa barang2 yang berbeda beda,  konsumsi data di negara2 berkembang  sering lebih reliable dan bermanfaat dibandingkan data tentang income. Deaton juga menunjukkan bahwa data seperti itu dipergunakan untuk menghitung dan memahami kemiskinan dan penyebabnya. Suatu problem yg muncul ketika mempelajari konsumsi dan penentunya adalah tipe data konsumsi apa yg  dipilih. Panel data – suatu data terhadap sampel yang tidak berubah dari rumah tangga. Deaton menunjukkan bahwa koleksi berulang dari cross sectional data dimana cohort ( grup yg memiliki kesamaan karakter ) dibandingkan dengan  rumah tangga pada umumnya dilacak sepanjang waktu – tidak hanya simpel dan murah tetapi dalam banyak hal punya kesamaan.

  Cohort (statistics), a group of subjects with a common defining characteristic—typically age group

Problem lainnya adalah cara mengukur kemiskinan dari konsumsi atau dari data pengeluaran  ketika rumah tangga ditempat berbeda menghadapi harga2 lokal, atau ketika mereka mengkonsumsi  sejumlah barang2 yg berbeda beda dimana harga dan kwalitas dari barang tersebut tidak diobservasi.  Penelitian mengenai hal itu telah memiliki impact terhadap usaha mengukur kemiskinan di negara2 berkembang, Deaton menunjukkan bagaimana melakukan eksploitasi terhadap berbagai macam variasi dalam nilai ( pengeluaran dibagi kwantitas ) untuk melakukan konstruksi harga pasar lokal ketika data tersebut tidak tersedia.

Problem lainnya lagi bahwa kemiskinan didefinisikan pada level individu rumah tangga dimana data konsumsi dikumpulkan. Secara umum pendekatannya untuk mengukur kesejahteraan individu melalui jumlah pengeluaran per capita, dengan asumsi anak2 mengkonsumsi sebanyak jumlah orang dewasa. Namun Deaton menunjukkan bahwa estimasi yang masuk akal adalah pengeluaran anak sebesar 30-40% orang dewasa. Dengan demikian per capita kemiskinan di estimasi akan diatas kemiskinan rumah tangga yang memiliki anak.

Deaton juga membuat sejumlah kontribusi penting mengenai cara untuk membandingkan kesejahteraan sepanjang waktu dan negara.  Dia menyoroti dan  memberikan  peringatan ketika melakukan perbandingan tersebut , bagaimana mengukur level titik kemiskinan  satu arah ketika data rumah tangga yang dipakai dalam survei. Dia juga klarifikasi mengapa revisi yang baru dilakukan tentang garis kemiskinan  yang membuat difinisi  suatu keluarga miskin telah menaikkan angka kemiskinan global mendekati setengah milyar orang.

( Deaton has also made a number of  important contributions to the best  ways to compare welfare across time and countries. He has highlighted  the pitfalls of such comparisons  by investigating why measures of  poverty levels point in one direction when using data from national  accounts, and in another direction  when using data from household  surveys. He has also clarified why recent revisions to the poverty line that defines a poor family have increased the global poverty count  by nearly half a billion)

Dalam tahun 1980an resit tentang pembangunan ekonomi umumnya teoritis, empiris, berbasis  data agregat dari angka nasional.  Kini telah berubah.  Pembangunan ekonomi adalah suatu resit pengembangan empiris berbasis advanced analysis dari data detil individu2 rumah tangga. Hasil resit Deaton  penting sebagai kekuatan yang membawa transformasi ini . Dua contoh tsb, berbasis solid analysis dari konsumsi rumah tangga – tergambar pengaruhnya.

Sejak lama kalangan ekonom  telah bekerja dengan suatu ide bahwa suatu negara kemungkinan  terjebak dalam kemiskinan ( poverty trap ). Berpenghasilan rendah  menciptakan asupan kalori yang rendah  menyebabkan orang tidak mampu bekerja dalam kapasitas penuh,  dengan begitu income mereka tetap rendah juga asupan kalori rendah.  Mempertanyakan jebakan kemiskinan ( poverty trap ) menjadi penting ketika mendesign bantuan internasional kepada negara2 paling miskin.  Jika bantuan tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi, namun menaikkan income tetap tidak menaikkan asupan kalori yang berarti, hal ini terdapat suatu argumen  untuk reoreintasi bantuan bantuan makanan.

Hasil resit Deaton  mengenai keterkaitan antara  income dan asupan kalori menjelaskan betapa pentingnya hal tersebut:  kenaikan income  terbukti tidak bisa menaikkan konsumsi kalori. Disisi lain  bukti tersebut tidak mendukung suatu hipotesa bahwa kekurangan nutrisi menjelaskan adanya kemiskinan. Dengan kata lain malnutrisi adalah konsekwensi dar income yang rendah bukan sebaliknya.  Contoh yang lain dari karya Deaton tentang diskriminasi gender didalam keluarga.  Sementara ini banyak bukti bahwa anak laki2 disukai dari pada anak perempuan di banyak negara berkembang – fenomena tentang missing women kemungkinan menjadi suatu contoh pelik – bagaimana asalnya tidak jelas.  Mungkin perempuan  secara sistematis sedikit menyumbangkan resources dibandingkan anak laki2, namun untuk mengujinya sulit. Sekalipun jika memungkinkan peneliti hidup dalam keluarga  yg berbeda beda sehingga setiap jam pada suatu hari melakukan observasi konsumsi yang dipilih, rumah tangga  bisa berubah ketika di observasi.  Untuk mengatasi problem tersebut Deaton mengusulkan suatu cara yang cerdik ketika memakai data konsumsi rumah tangga  yg secara tidak langsung mengestimasi  apakah perempuan diberikan lebih sedikit dibandingkan anaklaki2. Secara spesifik  Deaton menyelidiki apakah konsumsi terhadap barang2 seperti pakaian, tembako atau alkohol hilang ketika famili memiliki anak, apakah reduksi ini makin besar jika anak tersebut laki2 dibandigkan jika perempuan. Mempergunakan survei rumah tangga di sejumlah negara berkembang Deaton mampu menemukan perbedaan sistematis  dalam situasi normal (systematic differences under normal circumstances ) . Nantinya membuktikan suatu diskriminasi jika keluarga menghadapi situasi yang berbeda (when households face adverse circumstances ).

Broad contributions and bridge-building

Hasil resit Angus Deaton mencakup wilayah yang sangat luas, menyentuh berbagai aspect konsumsi. Juga menunjukkan luasnya pendekatan secara mengesankan dalam teori basic, metode statistik  untuk menguji, pengetahuan yang mendalam ttg data yang tersedia serta  menemukan  cara kerja untuk memperoleh  data baru.  Satu denominator  lain adalah membangun jembatan yang mengkaitkan antara perilaku individu dengan agregat  hasil out perekonomian.  Banyak kontribusi Deaton  meninggalkan kesan dan impresif dalam kebijakan ekonomi praktis serta dalam resit ekonomi moderen.

 

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *