Pembangunan Infrastruktur China (lanjutan)

Munculnya China sebagai pabrik dunia tidak akan mungkin tanpa berbagai ekonomi baru berupa layanan infrastruktur yang ada. Kebijakan ekonomi terbuka dengan ketersediaan infrastruktur dan tenaga kerja murah berhasil menarik masuknya investasi asing langsung (FDI) dalam jumlah besar terutama ke sektor manufaktur dan jasa yang mengarah pada pertumbuhan yang didorong oleh ekspor dan produktivitas

Sebagian besar pembiayaan infrastruktur di China berasal dari tiga saluran besar. Ini adalah investasi anggaran langsung dari sumber daya fiskal, pinjaman dan pembiayaan berbasis pasar. Pengeluaran anggaran langsung untuk infrastruktur perkotaan mencakup pengeluaran di tingkat pusat, provinsi dan daerah dari sumber daya fiskal. Karena sebagian besar bank adalah milik negara, mereka didorong, sebagai kebijakan nasional, untuk memberikan pinjaman untuk proyek infrastruktur dan pembangunan infrastruktur perkotaan.

Economist Intelligent 1 Juni 2018, publikasikan artikel berjudul, Apakah China berinvestasi terlalu banyak dalam infrastruktur?

China sering dikaitkan dengan tingkat pengeluaran infrastruktur yang tinggi. Sebagian besar likuiditas yang dirilis setelah krisis keuangan global 2008-09 akhirnya mendukung proyek infrastruktur yang meningkatkan PDB. Dalam beberapa tahun terakhir, investasi infrastruktur kembali ditingkatkan untuk mengimbangi moderasi dalam investasi pengembangan properti, yang secara tradisional merupakan pendorong utama perekonomian. Pada tahun 2017, investasi aset tetap atau Fixed Asset Investment (FAI) dalam infrastruktur mencapai US$2,6 trilyun, menyumbang 27,8% dari total FAI. Kami memperkirakan bahwa pengeluaran tersebut memberikan kontribusi sebesar 0,7 poin persentase terhadap pertumbuhan GDP  riil sebesar 6,9% pada tahun tersebut.

Fokus investasi infrastruktur bervariasi. Setelah krisis keuangan global, belanja infrastruktur terutama digunakan untuk transportasi, khususnya kereta api (berkecepatan tinggi). Pada periode 2013‑15, penekanan diberikan pada rekayasa kota, seperti konstruksi dan pemeliharaan jalan dan perkerasan, jaringan suplai air dan fasilitas pembuangan limbah. Dalam beberapa tahun terakhir infrastruktur transportasi telah muncul kembali sebagai prioritas, namun dengan fokus pada jaringan jalan nasional dan pergudangan, didorong oleh permintaan yang diciptakan oleh ledakan e-commerce.

Pengeluaran agresif untuk infrastruktur seperti itu menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutannya. Dengan standar internasional, China berinvestasi jauh lebih banyak di sektor ini daripada kebanyakan rekan ekonomi berkembangnya. IMF memperkirakan capital public stock percapita, yang terdiri dari infrastruktur ekonomi dan sosial, hanya di bawah US$20.000 (dengan harga konstan tahun 2011) pada tahun 2015. Hal ini serupa dengan tingkat di negara maju seperti Inggris dan Jerman, dan jauh di atas itu. di Rusia, Brasil, dan India. Pengeluaran modal publik China diperkirakan setara dengan 13,4% dari GDP pada tahun 2015, dibandingkan dengan rata-rata di negara-negara BRICS lainnya yang hanya sebesar 3,2%.

Namun, data tersebut juga menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk belanja infrastruktur yang lebih besar. Stok modal publik China per kapita masih jauh lebih rendah daripada di AS dan Jepang—perbandingan yang bisa dibilang tepat untuk negara dengan geografi yang besar dan beragam. China juga masih mengalami urbanisasi. Selain itu, sebagian besar sumber internasional mengakui bahwa pembangunan infrastruktur negara masih di bawah standar. China menempati peringkat ke-47 secara keseluruhan dalam Peringkat Kualitas Infrastruktur Forum Ekonomi Dunia 2017, dengan skor buruk di semua subsektor selain perkeretaapian.

Mempelajari tentang ICOR menjadi sangat menarik karena ICOR dapat merefleksikan besarnya produktifitas kapital (modal) yang pada akhirnya menyangkut besarnya pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai.

ICOR = ΔK / ΔY

dimana: ΔK = perubahan kapital, ΔY = perubahan output

Dalam perkembangannya, data yang digunakan untuk menghitung ICOR bukan lagi hanya penambahan barang modal baru atau perubahan stok kapital melainkan Investasi (I) yang ditanam baik oleh swasta maupun pemerintah sehingga rumusan ICOR dimodifikasi menjadi:

ICOR = I / ΔY

dimana: I = Investasi, ΔY = perubahan output

Rumus penghitungan ICOR ini dapat diartikan sebagai banyaknya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mendapatkan 1 unit output.

Berikut perbandingan ICOR China dengan ICOR Indonesia

diposting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published.