Rupiah bisa jatuh Rp 22 000 per US$ pada Akhir Juli 2026, mungkinkah?

Ekonom Ferry Latuhihin menyebut kurs Rupiah bisa jatuh Rp 22 000 per US$ pada Akhir Juli 2026, mungkinkah?

Kemungkinan Rupiah mencapai Rp22.000/US$ pada akhir Juni 2026 masih skenario ekstrem, bukan baseline utama pasar saat ini.

Saat ini: *20–22 Mei 2026 Rupiah berada sekitar Rp17.600–17.700/US$. Untuk mencapai Rp 22 000 dibutuhkan (22 000 – 17 690) / 17 690 = 24%.

Artinya diperlukan depresiasi tambahan sekitar 24% dalam waktu sangat singkat. Itu biasanya hanya terjadi bila ada: krisis neraca pembayaran, panic capital flight, cadangan devisa jatuh tajam, krisis politik/fiskal, atau sistem kurs kehilangan kredibilitas.

Percakapan Prof Rhenald Kasali dengan Ekonom Prof Ferry Latuhihin

Saat ini memang ada tekanan serius:

1.Harga minyak tinggi akibat konflik Timur Tengah.

Pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (22/5/2026), harga minyak brent ditutup menguat 0,94% ke US$103,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,26% menjadi US$96,60 per barel. Kedua kontrak sempat melonjak lebih dari 3% pada awal sesi perdagangan.

2.Capital outflow dari pasar Indonesia.

3.Rupiah sudah melemah sekitar 5–6% sepanjang 2026.

4.Bank Indonesia bahkan menaikkan suku bunga 50 bps untuk mempertahankan Rupiah.

5.Cadangan devisa dipakai untuk intervensi pasar

Posisi Cadangan Devisa Indonesia

Desember 2025US$ 156,5 miliar
Januari 2026US$ 154,6 miliar– US$ 1,9 miliar
Februari 2026US$ 151,9 miliar– US$ 2,7 miliar
Maret 2026US$ 148,2 miliar– US$ 3,7 miliar
April 2026US$ 146,2 miliar– US$ 2,0 miliar
Pertengahan Mei 2026US$  146,2 miliarRelatif stabil
Total Penurunan – US$ 10,3 miliar atau -6,6%

Detail Penyebab Penurunan

1.Intervensi BI Menahan Rupiah

Sepanjang awal 2026 rupiah melemah tajam: Januari 2026 sekitar Rp 16.400–16.600/US$  dan Mei sekitar Rp 17.700/US$

Untuk menahan pelemahan tersebut, Bank Indonesia menjual dolar AS dari cadangan devisa ke pasar. Reuters menyebut US$ 10 miliar untuk intervensi

Bank Indonesia bahkan menyatakan melakukan: intervensi pasar domestik, pasar offshore,  dan operasi hampir 24 jam.

2.Capital Outflow Asing

Investor asing keluar dari saham, SUN/obligasi pemerintah, pasar emerging markets.

Penyebab utama:

*perang Iran–Israel,

*lonjakan harga minyak,

*penguatan US$ global,

*kekhawatiran fiskal Indonesia,

*isu independensi BI,

*risiko penurunan rating MSCI/Fitch/Moody’s.

Akibatnya: permintaan US$ meningkat, tekanan terhadap rupiah bertambah, BI harus menggunakan devisa lebih besar.

3.Pembayaran Utang Luar Negeri Pemerintah

BI berkali-kali menyebut pembayaran utang luar negeri pemerintah menjadi faktor utama turunnya cadangan devisa.

Januari 2026sekitar US$ 1–1,5 miliar
Februari 2026sekitar US$ 1–2 miliar
Maret 2026sekitar US$ 1,5–2 miliar
April 2026sekitar US$ 1 miliar
Mei 2026relatif kecil / rollover lebih besar

Total pembayaran utang luar negeri pemerintah Jan–Mei 2026 diperkirakan sekitar US$ 5 – 7 miliar.

Posting oleh gandatmadi46@yahoo.com

Post navigation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *